Jumat, 28 Juni 2013



  
BAB I
LATAR BELAKANG
Menjadi karyawan atau pegawai baru bukanlah hal yang mudah bagi setiap bahkan semua orang. Menjumpai lingkungan yang baru dengan teman dan tatacara bergaul yang baru terkadang bahkan sering menjadi hal yang sulit bagi seseorang. Oleh karena itu seorang karyawan baru harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya agar dia dapat merasa nyaman dalam bekerja. Namun untuk mampu beradaptasi membutuhkan waktu yang tidak singkat dan juga kesabaran, karena melakukan atau menjumpai sesuatu yang baru akan terasa sulit dan asing bahkan tidak nyaman pada awalnya. Bagi sebagian dari mereka mungkin ini merupakan sebuah pengalaman yang pahit yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk berhenti bekerja atau mencari pekerjaan yang baru.
Jika dilihat dari praktek kesehariannya hal seperti ini tidak hanya menimpa seseorang yang baru pertama kali bekerja, orang yang sudah mempunyai pengalaman dalam bekerjapun sering mengalami hal seperti itu ketika menempati tempat kerja yang baru. Pada intinya menjadi karyawan baru di tempat yang baru tidak semudah membalikan telapak tangan atau secepat memasak mie instan yang hanya memerlukan waktu beberapa menit. Ada beberapa kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja yang bila tidak di tangani secara bijak dapat membuat rencana kita gagal. Kesulitan tersebut dapat timbul dari diri sendiri (internal) atau dari atasan, pimpinan bahkan managemen (eksternal) yang ada pada tempat kita bekerja.                                                                   

RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja kesulitan yang bersumber dari diri kita (internal) ?
2.      Apa saja kesulitan yang bersumber dari orang atau hal lain (eksternal) ?
3.      Bagaimana cara mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut?

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
1.      Apa saja kesulitan yang bersumber dari diri kita (internal) ?
Menurut salah satu situs web yang saya jadikan bahan atau sumber dari pembuatan makalah ini, ada beberapa point penting yang mengenai kesulitan beradaptasi terhadap lingkungan kerja atau industry yang bersumber dari laporan sebuah study di Amerika yang berjudul “Are They Really Ready to Work” (The conference board inc:2006)  adalah sebagai berikut :
a.       Skill atau kompetensi
Skill atau kemampuan merupakan sesuatu hal yang dimiliki oleh setiap orang. Skill merupakan suatu hal yang kita miliki dan membuat kita mampu mengerjakan pekerjaan. Selain itu kita juga membutuhkan motivasi agar kita mau atau bersemangat dalam mengerjakan pekerjaan kita. Motivasi dapat kita peroleh dari beberapa hal salah satunya dengan membaca buku motivasi atau mendengarkan pembahasan dari motivator. Sedangkan sikap merupakan hal yang sangat menentukan bagus atau tidaknya kita dalam bekerja.
            Apabila skill yang kita miliki kurang atau tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan di tempat kita bekerja, inilah masalah dari dan untuk diri kita sendiri. Jika di dalam perusahaan tempat kita bekeerja mempunyai EAP (Employee Assistance Program), ini dapat kita manfaatkan sebagai sarana untuk memperbaiki skill atau kemampuan yang kita miliki . tetapi sayangnya tidak semua perusahaan mempunyai program ini. Untuk itu lebih baik jika kita mempunyai inisiatif dan berfikir kreatif untuk menambah ketrampilan dan kemampuan yang kita miliki dengan sarana yang tersedia di tempat kita bekerja.
b.      Profesionalisme dan etika kerja
Orang akan disebut professional dalam bekerja jika memegang teguh atau berpedoman pada nilai-nilai dan etika kerja di telmpat bekerjanya. Untuk itu kita harus mempunyai beberapa point sebagai berikut:
-          Mempunyai komitmen terhadap tugas
-          Mempunyai disiplin kerja
-          Mempunyai semangat dedikasi yang tinggi
-          Mentaati etika, kode etik atau kesopanan
c.       Komunikasi (lisan dan tulisan)
Kurangnya kemampuan berkomunikasi baik secara tulisan maupun lisan ini merupakan salah satu hal yang dapat mempersulit posisi kita di tempat kerja yang baru. Bagi yang baru lulus sekolah biasanya masih sangat sulit untuk beradaptasi dengan cara berkomnikasi di tempat kerja, karena jelas saja berbeda cara berkomunikasi di sekolah dan di tempat kerja. Di sekolah mereka biasa menggunakan bahasa santai dengan teman-teman satu kelasnya, namun di tempat kerja tidak bisa seperti itu, walaupun berada dalam satu ruangan yang sama dan jam kerja atau bahkan pekerjaan yang sama pula tapi tetap ada perbedaan antara senior dan junior , kita sebagai orang baru harus selalu menggunakan bahasa yang sopan.
Bagi yang sudah pernah bekerja di tempat lain pun juga perlu berhati-hati, karena tidak semua hal yang di anggap baik atau patut di suatu tempat dan sekelompok orang di anggap baik dan patut pula di tempat serta sekelompok orang lain.
d.      Kerja sama atau tim
Kerjasama kelompok merupakan salah satu keahlian yang harus kita miliki agar kita dapat melaksanakan tugas dalam pekerjaan yang sifatnya berkelompok dengan rekan-rekan kerja kita. Hal-hal yang perlu di hindari oleh orang baru dalam kerjasama adalah sebagai berikut:
-          Sedikit-sedikit mendebat
-          Tidak mau di pimpin
-          Tidak mau mendengar masukan
-          Gampang tersinggung (sensitive)
-          Dll
e.       Berpikir kritis dan kemampuan problem solving
Berfikir kritis merupakan kemampuan seseorang dalam memahami situasi dengan cara menguraikan masalah  bagian yang lebih rinci. Semua level jabatan membutuhkan kemampuan ini namun bentuknya berbeda-beda, misalnya saja: teliti, keputusan yang logis, opini yang actual dan factual, memiliki informasi yang relevan dengan pekerjaan, mengetahui sumber-sumber berbahaya (the danger), dll.
Itu semua adalah point yang berpotensi menyulitkan posisi kita. Apabila tidak kita perhatikan dengan seksam
2.      Apa saja kesulitan yang bersumber dari orang atau hal lain (eksternal) ?
-          Person
Secara umum masalah yang di hadapi orang baru secara eksternal adalah masalah person. The person di sini bisa atasan, bawahan ataupun kolega. Person yang dapat mempersulit kita (difficult person) menurut kolomnis The CEO refresher, Paul B. Thornton (2002) mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
1.      The aggressor : memaksakan kehendak, menggunakan bahasa kasar, otoriter, main pecat, dll.
2.      The victim : selalu menyalahkan orang lain, selalu mengomel karena merasa di rugikan orang lain, selalu menuding karyawan sebagai factor kerugian, dst.
3.      The rescuer : selalu ikut campur, telalu takut di benci orang dan terlalu ingin di puji orang, dll.
-          Miliu kerja dan budaya
    Selain person miliu dan budaya dapat mempersulit posisi kita. Miliu kerja adalah apa yang kita rasakan di tempat kita bekerja. Secara rasa jelas berbeda tempat yang sudah di penuhi rasa ketidaknyamanan seperti halnya permusuahan dengan tempat yang di penuhio kekeluargaan atau keharmonisan. Pasti terdapat perbedaan antara miliu yang sakit dan miliu yang masih sehat. Lingkungan yang bersiih dan kotor, ada yang disiiplin dan tertib tetapi ada juga yang kendor ddan tidak beraturan.

Artinya, miliu ataupun budaya yang kurang pas di hati kita terkadang dapat menjadi masalah bagi kita, karena rasa ketidaknyamanan kita. Oleh karena itu, banyak dari kita yang memilih berhenti bekerja saat menghadapi miliu dan budaya yang tidak pas bagi kita.
3.      Bagaimana cara mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut?
Ketika kita menghadapi kesulitan di tempat kerja kita, hanya ada 2 kemungkinan pilihan yang tersedia. Pertama , kita berhenti bekerja di tempat kerja kita dan mencari pekerjaan yang lebih bagus (push out but better off) dan ketika kita memilih pihan ini pembahasan kita selesai sampai disini. Kedua, kita akan tetap bertahan di tempat kerja kita dan mengembangkan pemikiran kita dengan belajar mengatasi kesulitan-kesulitan yang kita temui. Di bawah ini beberapa acuan jika kita memilih pilihan yang kedua :
-          Memfokuskan pada pengembangan diri
Dua hal penting untuk pengembangan diri adalah:
a.       Memiliki program pengembangan untuk diri kita sendiri, seperti skill kerja atau mempersiapkan mental yang bagus .
b.      Menjadi fasilitator atas tugas yang diberikan kepada kita. Artinya kita menerima apapun tugas yang diberikan kepada kita sebagai sarana untuk belajar. Usahakan jangan mengerjakan sesuatu yang ditugaskan kepada kita hanya  karena di suruh, ini akan terlihat seperti beban untuk diri kita dan mencerminkan kesan yang kurang bagus. Apalagi kita terlebih menuntut hak-hak sebelum kewajiban kita. Kita bisa menjadikan tugas sebagai latihan berfikir kritis, meningkatkan skill atau kompetensi dan lain-lain.
-          Fokuskan pada pembuktian
Sebagai orang baru di suatu tempat mungkin kita dapat menggunakan pesan dari jet li. Pertama ketuklah pintu, kemudian buatlah orang tau akan kedatangan anda, selanjutnya buktikan siapa diri anda. Jika anda telah berhasil membuktikan siapa anda , anda tidak akan kesulitan dalam mengontrol orang atau keadaan. Sebagai orang baru kita akan menerima berbagai penilaian mulai dari yang positif sampai yang negative, hal ini harus kita terima sebagai suatu hal yang wajar. Jika kita pada akhirnya dapat membuktikan diri dengan kemampuan yang kita miliki, opini mereka akan hilang dengan sendirinya karena telah terjawab oleh realitas yang telah kita buktikan. Terkadang lebih bagus kita di nilai 5 dalam teori tetapi 10 dalam pembuktiannya, daripada 10 dalam teori tetapi 5 dalam prakteknya.
-          Pelajari cara hidup
Untuk mempelajari hal ini lebih baik kita mengikuti orang lama daripada kita langsung memberontak. Yang diperlukan disini adalah kemampuan untuk mendengarkan, mengoservasi, melihat, menanyakan dan mempertanyakan serta memahami hal-hal yang kiranya perlu. Hindari upaya untuk terlihat lebih menonjol dan terlalu banyak membual, ikuti saja dan terus pelajari . jadikan ini sebagai sarana untuk memperbaiki kemampuan berkomunikasi.
-          Membangun mentalitas baja
Cara ini sering berhasil untuk menghadapi atasan yang kita sebut difficult people saat kita belum mempunyai altermnatif  lain. Tetapi tidak semua jenis difficult people dapat kita hadapi dengan cara ini. Disini kita umpamakan kita mempunyai atasan yang “tidak mudah puas”. Jika kita mempunyai pemahaman hanya dari perlakuan atasan pada diri kita itu merupakan pemikiran yang dangkal dan hanya akan mempersulit hidup kita dan memperberat beban batin kita.
Kita harus mampu melihat atasan kita dari sudut pandang yang berbeda. Bermental baja bukan berarti tidak mempan perubahan dan tidak punya perasaan. Untuk mempunyai mental baja kita harus mempunyai pemikiran yang luas dan pandangan yang obyektif dalam menilai sebuah kejadian. Misalnya saat kita dimarahi, diberi tugas yang sangat berat, di tegur, di kritik da,mn lain sebagainya, jangan menilai atasan atau kolega dari sikap emosinya atau perilaku mereka. Selama kita masih terfokus pada hal-hal yang terlihat dipermukaan saja pada kasusnya, pada perilakunya sematasebenarnya asumsi kita berdasarkan pemahaman yang sangat dangkal tentang atasan atau kolega kita. Hal ini yang biasanya membuat kita lebih terfokus pada sakit hatinya tanpa memikirkan hikmah atau pelajaran yang sangat berharga. 
Kesimpulan
Sebagai orang baru yang berada ditempat baru serta dilingkungan dengan orang yang baru dikenal juga, merupakan suatu hal yang tidak muudah. Untuk mampu beradaptasi membutuhkan kesabaran ekstra dan waktu yang tidak singkat.
Dalam proses adaptasi kita akan menjumpai kesulitan-kesulitan yang dapat berasal dari diri kita sendiri (interal), maupun orang lain atau hal lain (eksternal). Yang mana kesulitan-kesulitan tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bekerja dan membuat kita akhirnya memutuskan untuk berhenti kerja dan mencari pekerjaan lain.
Namun ada beberapa cara yang dapat di jadikan sebagai acuan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Cara-cara tersebut telah saya sajikan dalam pembahasan dalam makalah ini.

Penutup
Beradaptasi merupakan suatu hal yang tidak mudah, kita akan menjumpai beberapa kesulitan dalam proses adaptasi. Tetapi kesulitan tersebut dapat kita atsi dengan cara yang bijak. Semoga makalah ini dapat menjadi sebuah acuan untuk beradaptasi serta menambah wawasan bagi pembaca. Amiin.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar