BAB
I
LATAR
BELAKANG
Menjadi
karyawan atau pegawai baru bukanlah hal yang mudah bagi setiap bahkan semua
orang. Menjumpai lingkungan yang baru dengan teman dan tatacara bergaul yang
baru terkadang bahkan sering menjadi hal yang sulit bagi seseorang. Oleh karena
itu seorang karyawan baru harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya
agar dia dapat merasa nyaman dalam bekerja. Namun untuk mampu beradaptasi
membutuhkan waktu yang tidak singkat dan juga kesabaran, karena melakukan atau
menjumpai sesuatu yang baru akan terasa sulit dan asing bahkan tidak nyaman
pada awalnya. Bagi sebagian dari mereka mungkin ini merupakan sebuah pengalaman
yang pahit yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk berhenti bekerja atau
mencari pekerjaan yang baru.
Jika
dilihat dari praktek kesehariannya hal seperti ini tidak hanya menimpa
seseorang yang baru pertama kali bekerja, orang yang sudah mempunyai pengalaman
dalam bekerjapun sering mengalami hal seperti itu ketika menempati tempat kerja
yang baru. Pada intinya menjadi karyawan baru di tempat yang baru tidak semudah
membalikan telapak tangan atau secepat memasak mie instan yang hanya memerlukan
waktu beberapa menit. Ada beberapa kesulitan dalam beradaptasi dengan
lingkungan kerja yang bila tidak di tangani secara bijak dapat membuat rencana
kita gagal. Kesulitan tersebut dapat timbul dari diri sendiri (internal) atau
dari atasan, pimpinan bahkan managemen (eksternal) yang ada pada tempat kita
bekerja.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa
saja kesulitan yang bersumber dari diri kita (internal) ?
2.
Apa
saja kesulitan yang bersumber dari orang atau hal lain (eksternal) ?
3.
Bagaimana
cara mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut?
BAB II
PEMBAHASAN
MASALAH
1.
Apa
saja kesulitan yang bersumber dari diri kita (internal) ?
Menurut
salah satu situs web yang saya jadikan bahan atau sumber dari pembuatan makalah
ini, ada beberapa point penting yang mengenai kesulitan beradaptasi terhadap
lingkungan kerja atau industry yang bersumber dari laporan sebuah study di
Amerika yang berjudul “Are They Really Ready to Work” (The conference board
inc:2006) adalah sebagai berikut :
a.
Skill
atau kompetensi
Skill
atau kemampuan merupakan sesuatu hal yang dimiliki oleh setiap orang. Skill
merupakan suatu hal yang kita miliki dan membuat kita mampu mengerjakan
pekerjaan. Selain itu kita juga membutuhkan motivasi agar kita mau atau
bersemangat dalam mengerjakan pekerjaan kita. Motivasi dapat kita peroleh dari
beberapa hal salah satunya dengan membaca buku motivasi atau mendengarkan
pembahasan dari motivator. Sedangkan sikap merupakan hal yang sangat menentukan
bagus atau tidaknya kita dalam bekerja.
Apabila
skill yang kita miliki kurang atau tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan di
tempat kita bekerja, inilah masalah dari dan untuk diri kita sendiri. Jika di
dalam perusahaan tempat kita bekeerja mempunyai EAP (Employee Assistance
Program), ini dapat kita manfaatkan sebagai sarana untuk memperbaiki skill atau
kemampuan yang kita miliki . tetapi sayangnya tidak semua perusahaan mempunyai
program ini. Untuk itu lebih baik jika kita mempunyai inisiatif dan berfikir
kreatif untuk menambah ketrampilan dan kemampuan yang kita miliki dengan sarana
yang tersedia di tempat kita bekerja.
b.
Profesionalisme
dan etika kerja
Orang
akan disebut professional dalam bekerja jika memegang teguh atau berpedoman
pada nilai-nilai dan etika kerja di telmpat bekerjanya. Untuk itu kita harus
mempunyai beberapa point sebagai berikut:
-
Mempunyai
komitmen terhadap tugas
-
Mempunyai
disiplin kerja
-
Mempunyai
semangat dedikasi yang tinggi
-
Mentaati
etika, kode etik atau kesopanan
c.
Komunikasi
(lisan dan tulisan)
Kurangnya
kemampuan berkomunikasi baik secara tulisan maupun lisan ini merupakan salah
satu hal yang dapat mempersulit posisi kita di tempat kerja yang baru. Bagi
yang baru lulus sekolah biasanya masih sangat sulit untuk beradaptasi dengan
cara berkomnikasi di tempat kerja, karena jelas saja berbeda cara berkomunikasi
di sekolah dan di tempat kerja. Di sekolah mereka biasa menggunakan bahasa
santai dengan teman-teman satu kelasnya, namun di tempat kerja tidak bisa
seperti itu, walaupun berada dalam satu ruangan yang sama dan jam kerja atau
bahkan pekerjaan yang sama pula tapi tetap ada perbedaan antara senior dan
junior , kita sebagai orang baru harus selalu menggunakan bahasa yang sopan.
Bagi yang
sudah pernah bekerja di tempat lain pun juga perlu berhati-hati, karena tidak
semua hal yang di anggap baik atau patut di suatu tempat dan sekelompok orang
di anggap baik dan patut pula di tempat serta sekelompok orang lain.
d.
Kerja
sama atau tim
Kerjasama
kelompok merupakan salah satu keahlian yang harus kita miliki agar kita dapat
melaksanakan tugas dalam pekerjaan yang sifatnya berkelompok dengan rekan-rekan
kerja kita. Hal-hal yang perlu di hindari oleh orang baru dalam kerjasama
adalah sebagai berikut:
-
Sedikit-sedikit
mendebat
-
Tidak
mau di pimpin
-
Tidak
mau mendengar masukan
-
Gampang
tersinggung (sensitive)
-
Dll
e.
Berpikir
kritis dan kemampuan problem solving
Berfikir
kritis merupakan kemampuan seseorang dalam memahami situasi dengan cara
menguraikan masalah bagian yang lebih
rinci. Semua level jabatan membutuhkan kemampuan ini namun bentuknya
berbeda-beda, misalnya saja: teliti, keputusan yang logis, opini yang actual
dan factual, memiliki informasi yang relevan dengan pekerjaan, mengetahui
sumber-sumber berbahaya (the danger), dll.
Itu semua adalah point yang berpotensi menyulitkan
posisi kita. Apabila tidak kita perhatikan dengan seksam
2.
Apa
saja kesulitan yang bersumber dari orang atau hal lain (eksternal) ?
-
Person
Secara
umum masalah yang di hadapi orang baru secara eksternal adalah masalah person.
The person di sini bisa atasan, bawahan ataupun kolega. Person yang dapat
mempersulit kita (difficult person) menurut kolomnis The CEO refresher, Paul B.
Thornton (2002) mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
1.
The
aggressor : memaksakan kehendak, menggunakan bahasa kasar, otoriter, main
pecat, dll.
2.
The
victim : selalu menyalahkan orang lain, selalu mengomel karena merasa di
rugikan orang lain, selalu menuding karyawan sebagai factor kerugian, dst.
3.
The
rescuer : selalu ikut campur, telalu takut di benci orang dan terlalu ingin di
puji orang, dll.
-
Miliu
kerja dan budaya
Selain person miliu dan budaya dapat
mempersulit posisi kita. Miliu kerja adalah apa yang kita rasakan di tempat
kita bekerja. Secara rasa jelas berbeda tempat yang sudah di penuhi rasa
ketidaknyamanan seperti halnya permusuahan dengan tempat yang di penuhio
kekeluargaan atau keharmonisan. Pasti terdapat perbedaan antara miliu yang
sakit dan miliu yang masih sehat. Lingkungan yang bersiih dan kotor, ada yang
disiiplin dan tertib tetapi ada juga yang kendor ddan tidak beraturan.
Artinya, miliu ataupun budaya yang kurang pas di
hati kita terkadang dapat menjadi masalah bagi kita, karena rasa
ketidaknyamanan kita. Oleh karena itu, banyak dari kita yang memilih berhenti
bekerja saat menghadapi miliu dan budaya yang tidak pas bagi kita.
3.
Bagaimana
cara mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut?
Ketika
kita menghadapi kesulitan di tempat kerja kita, hanya ada 2 kemungkinan pilihan
yang tersedia. Pertama , kita berhenti bekerja di tempat kerja kita dan mencari
pekerjaan yang lebih bagus (push out but better off) dan ketika kita memilih
pihan ini pembahasan kita selesai sampai disini. Kedua, kita akan tetap
bertahan di tempat kerja kita dan mengembangkan pemikiran kita dengan belajar
mengatasi kesulitan-kesulitan yang kita temui. Di bawah ini beberapa acuan jika
kita memilih pilihan yang kedua :
-
Memfokuskan
pada pengembangan diri
Dua hal penting untuk
pengembangan diri adalah:
a.
Memiliki
program pengembangan untuk diri kita sendiri, seperti skill kerja atau
mempersiapkan mental yang bagus .
b.
Menjadi
fasilitator atas tugas yang diberikan kepada kita. Artinya kita menerima apapun
tugas yang diberikan kepada kita sebagai sarana untuk belajar. Usahakan jangan
mengerjakan sesuatu yang ditugaskan kepada kita hanya karena di suruh, ini akan terlihat seperti
beban untuk diri kita dan mencerminkan kesan yang kurang bagus. Apalagi kita
terlebih menuntut hak-hak sebelum kewajiban kita. Kita bisa menjadikan tugas
sebagai latihan berfikir kritis, meningkatkan skill atau kompetensi dan
lain-lain.
-
Fokuskan
pada pembuktian
Sebagai
orang baru di suatu tempat mungkin kita dapat menggunakan pesan dari jet li.
Pertama ketuklah pintu, kemudian buatlah orang tau akan kedatangan anda, selanjutnya
buktikan siapa diri anda. Jika anda telah berhasil membuktikan siapa anda ,
anda tidak akan kesulitan dalam mengontrol orang atau keadaan. Sebagai orang
baru kita akan menerima berbagai penilaian mulai dari yang positif sampai yang
negative, hal ini harus kita terima sebagai suatu hal yang wajar. Jika kita
pada akhirnya dapat membuktikan diri dengan kemampuan yang kita miliki, opini
mereka akan hilang dengan sendirinya karena telah terjawab oleh realitas yang
telah kita buktikan. Terkadang lebih bagus kita di nilai 5 dalam teori tetapi
10 dalam pembuktiannya, daripada 10 dalam teori tetapi 5 dalam prakteknya.
-
Pelajari
cara hidup
Untuk
mempelajari hal ini lebih baik kita mengikuti orang lama daripada kita langsung
memberontak. Yang diperlukan disini adalah kemampuan untuk mendengarkan,
mengoservasi, melihat, menanyakan dan mempertanyakan serta memahami hal-hal
yang kiranya perlu. Hindari upaya untuk terlihat lebih menonjol dan terlalu
banyak membual, ikuti saja dan terus pelajari . jadikan ini sebagai sarana
untuk memperbaiki kemampuan berkomunikasi.
-
Membangun
mentalitas baja
Cara ini
sering berhasil untuk menghadapi atasan yang kita sebut difficult people saat
kita belum mempunyai altermnatif lain.
Tetapi tidak semua jenis difficult people dapat kita hadapi dengan cara ini.
Disini kita umpamakan kita mempunyai atasan yang “tidak mudah puas”. Jika kita
mempunyai pemahaman hanya dari perlakuan atasan pada diri kita itu merupakan
pemikiran yang dangkal dan hanya akan mempersulit hidup kita dan memperberat
beban batin kita.
Kita
harus mampu melihat atasan kita dari sudut pandang yang berbeda. Bermental baja
bukan berarti tidak mempan perubahan dan tidak punya perasaan. Untuk mempunyai
mental baja kita harus mempunyai pemikiran yang luas dan pandangan yang
obyektif dalam menilai sebuah kejadian. Misalnya saat kita dimarahi, diberi
tugas yang sangat berat, di tegur, di kritik da,mn lain sebagainya, jangan
menilai atasan atau kolega dari sikap emosinya atau perilaku mereka. Selama
kita masih terfokus pada hal-hal yang terlihat dipermukaan saja pada kasusnya,
pada perilakunya sematasebenarnya asumsi kita berdasarkan pemahaman yang sangat
dangkal tentang atasan atau kolega kita. Hal ini yang biasanya membuat kita
lebih terfokus pada sakit hatinya tanpa memikirkan hikmah atau pelajaran yang
sangat berharga.
Kesimpulan
Sebagai orang baru yang berada ditempat baru serta
dilingkungan dengan orang yang baru dikenal juga, merupakan suatu hal yang
tidak muudah. Untuk mampu beradaptasi membutuhkan kesabaran ekstra dan waktu
yang tidak singkat.
Dalam proses adaptasi kita akan menjumpai
kesulitan-kesulitan yang dapat berasal dari diri kita sendiri (interal), maupun
orang lain atau hal lain (eksternal). Yang mana kesulitan-kesulitan tersebut
dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bekerja dan membuat kita akhirnya
memutuskan untuk berhenti kerja dan mencari pekerjaan lain.
Namun ada beberapa cara yang dapat di jadikan
sebagai acuan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut. Cara-cara tersebut
telah saya sajikan dalam pembahasan dalam makalah ini.
Penutup
Beradaptasi merupakan suatu hal yang tidak mudah,
kita akan menjumpai beberapa kesulitan dalam proses adaptasi. Tetapi kesulitan
tersebut dapat kita atsi dengan cara yang bijak. Semoga makalah ini dapat
menjadi sebuah acuan untuk beradaptasi serta menambah wawasan bagi pembaca.
Amiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar